Cinta adalah hati. Menulis dengan hati dan penuh cinta adalah ini. Ini adalah kami berdua. Berdua saling kenal. Berdua saling melihat. Berdua saling mendengar. Berdua saling merasa. Berdua saling mencoba. Sampai pada berdua saling cuek. Berdua saling sibuk. Berdua saling jauh. Atas dasar cinta, tiga pernyataan masa lalu: Berdua saling cuek, saling sibuk, saling jauh pun pudar dengan adanya tiga kata untuk hari-hari yang akan kami temui berdua yaitu berdua saling mencinta.
Lama kami telah berdua untuk pertama kali saling mengenal, putih abu-abu lah yang menjadi saksi. Kini warna putih abu-abu telah terabadikan dalam susunan kata ditulisan ini.
Bebek dan Kunyuk itu adalah sapaan yang menjadi kenangan di jaman putih abu-abu dulu. Dengan terus bumi ini berputar, alam semesta ini pun setiap hari selalu memberikan bukti bahwa kami berdua benar-benar ada dan menjadi tokoh utama di kehidupan ini.
Rasa, oleh @shudaiajlani
Di saat Jakarta menunggu magrib, jalanan Ibu Kota yang kami lewati penuh dengan warna dan rasa, tawa serta canda. Namun ada yang kurang, tangan ini belum bisa bertemu. Mungkin ada saatnya. Kami berdua menunggu saat itu terjadi. Hanya menunggu.
Jakarta melewati magrib dan Jakarta telah menangis. Beda dengan kami yang terus berlomba-lomba untuk tidak menangis di saat Jakarta menangis. Kami hanya bisa menikmati dan merasakan. Bahwa Jakarta sedang menangis ternyata bisa terlihat begitu klasik dengan cahaya lampu yang dipancarkan oleh setiap kendaraan yang lewat di hadapan kami. Cahaya kendaraan di bumbui dengan tetesan air yang turun dari langit Jakarta yang gelap.
Jakarta semakin gelap. Tetesan air masih sibuk berirama mengikuti alunan suara dan gerak-gerik pementas drama dirumah seni Salihara. Kami berdua duduk untuk berpikir, melihat juga untuk berpikir. Suatu pementasan yang cukup membuat kami tersenyum. Nabi Kembar - Sebuah pementasan oleh Teater Amoeba.
Secangkir hot chocholate dan secangkir hot cappucino yang masing--masing didampingi dengan roti bakar coklat dan srikaya. Cuma itu yang menjadi penghangat di saat Jakarta gelap dan sibuk dengan rintikannya.
Mungkin Jakarta tidak mau berhenti untuk memberi kesempatan kami beranjak dari rumah seni ini. Pukul jam sudah semakin menunjukan tengah malam, tidak punya pilihan lain.
Diantarkan oleh dua roda, diiringi oleh rintikan air, diselimuti oleh gelapnya kota jakarta dan dilengkapi dengan angin malam yang begitu khas. Akankah hari ini berakhir sampai disini? Di saat Jakarta belum bosan membasahi kami. Ternyata tidak.. Karena rasa ini belum lengkap.
Jakarta ditengah malam dengan angin yang khas dan tetesan yang belum bosan membasahi kami. Kami disini. Disofa merah, disaat pegawai ini sedang sibuk memposisikan kursi dan meja.
Duduk bersebelahan saling sibuk mulut ini mengunyah, ditemani suasana yang hangat dengan pemandangan luar yang masih gelap dan tetap sibuk dengan tetesan yang membasahi orang-orang diluar sana.
Disini tempat kami memulai cerita, cerita yang pasti akan kami terus abadikan melalui rasa dan cinta - Jumat, 8 Juni 2012.
Happy Birthday Febby Ulfa Safila!
Telat 4 hari, tapi pas di 4 bulan. Senyuuuum :)
![]() |






















